July 22, 2026

Belajar dari Persoalan Nyata: Capstone Design Universitas Pertamina Hasilkan Solusi Air Bersih

Pendidikan tinggi idealnya tidak berhenti pada teori di ruang kelas. Hal ini dibuktikan oleh lima mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Pertamina yang berhasil merancang Instalasi Pengolahan Air (IPA) Gambut Skala Komunal sebagai jawaban atas persoalan air bersih di kawasan lahan gambut Indonesia.

Proyek yang digagas oleh Muhammad Karunia Vivaldi, Geovanny Tampubolon, Monica Septyani, Muhammad Raihan Rachman, dan Tiara Wulan Win Nedhari ini lahir dari mata kuliah Capstone Design pada Proyek Terintegrasi Berbasis Lingkungan (PTBL). Melalui mata kuliah ini, mahasiswa dituntut tidak hanya menyelesaikan persoalan teknis, tetapi juga merancang solusi yang mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi secara bersamaan.

Latar belakang proyek ini cukup mendesak: sekitar 41 juta masyarakat Indonesia tinggal di kawasan gambut, di mana air di sekitar mereka justru tidak layak konsumsi langsung karena sifatnya yang asam, berwarna cokelat, serta mengandung zat organik dan logam tinggi.

Tim memilih Desa Indrapura sebagai lokasi studi kasus, dengan pertimbangan karakteristik airnya representatif terhadap tantangan di kawasan gambut secara umum. Uji laboratorium menunjukkan tingkat keasaman air hanya sekitar pH 3, jauh dari standar aman pH 6,5–8,5 untuk air minum, disertai kandungan besi dan mangan yang melampaui baku mutu.

Dari data tersebut, tim merancang sistem pengolahan bertahap: penurunan keasaman, penyaringan zat pencemar, hingga pemurnian menggunakan teknologi Reverse Osmosis (RO). Desain sistem juga mempertimbangkan proyeksi kebutuhan air masyarakat hingga 20 tahun ke depan, sehingga solusinya tidak hanya efektif untuk saat ini tapi juga relevan jangka panjang.

Menariknya, seluruh proses perancangan tetap mempertimbangkan faktor kemudahan operasional. Sistem ini didesain agar dapat dioperasikan dan dipelihara langsung oleh masyarakat setempat, tanpa memerlukan keahlian teknis tinggi — sebuah pendekatan yang realistis untuk diterapkan di desa-desa dengan keterbatasan sumber daya.

Dosen pembimbing proyek menilai capaian ini sebagai bukti bahwa pembelajaran berbasis proyek mampu menghasilkan dampak nyata di masyarakat, bukan sekadar nilai akademik semata. Sementara pihak rektorat menyebut inovasi ini sebagai bagian dari komitmen kampus mendukung SDG 6 (Clean Water and Sanitation), sejalan dengan pencapaian Universitas Pertamina sebagai PTS peringkat keempat terbaik nasional dalam kategori tersebut versi THE Impact Rankings 2026.

Kisah ini menjadi contoh nyata bagaimana metode pembelajaran berbasis proyek mampu mencetak lulusan yang siap menghadapi persoalan dunia nyata, bukan hanya unggul secara akademik.

Tertarik menempuh pendidikan dengan pendekatan pembelajaran berbasis solusi nyata seperti ini? Segera cek Pendaftaran Universitas Pertamina dan mulai langkah pertamamu menuju kampus yang mencetak inovator masa depan.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *