lakukan-yang-terbaik

Kamu punya ponsel Android? Jika punya, kemungkinan besar kamu sudah mendownload aplikasi bernama WhatsApp dong ya. Kalau belum, sini mimin download-in sekalian. Hihihihi.

WhatsApp ini merupakan sebuah aplikasi berbasis komunikasi digital. Maksudnya, aplikasi ini diciptakan untuk memudahkan komunikasi para penggunanya dalam satu paket yaitu komunikasi bicara layaknya telepon, komunikasi gambar – dengan mengirimkan foto dan emoji, serta komunikasi tulisan layaknya kamu mengirim teks pada umumnya. Komplit banget ya? Pasti pencetusnya brilian banget nih, bisa-bisanya menciptakan aplikasi semacam ini.

Namanya belum dikenal kala itu. Jan Koum, seorang pria keturunan Yahudi dari Ukraina yang mengalami kehidupan serba sulit sedari kecil hingga masa remajanya. Pertama, karena ia hidup di negara yang keadaan politiknya sering bergejolak. Hal ini membuat situasi hidup warganya juga serba memprihatinkan. Yang paling dirasakan Jan muda adalah keterbatasan pasokan listrik di daerahnya kala itu. Kedua, karena ia adalah keturunan Yahudi. Dimana warga keturunan Yahudi sering mendapat tekanan dari gerakan anti Yahudi yang juga sedang bergejolak di negaranya.

Jan Koum lahir pada tanggal 24 Februari 1976 di Fastiv, Ukraina. Ayahnya adalah seorang manager konstruksi dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Meskipun ayahnya seorang manager konstruksi, bukan berarti kehidupan keluarganya serba kecukupan. Karena dua alasan yang sudah disebutkan di atas tadilah, yang memaksa keluarga mereka merasakan dampaknya. Bahkan, keluarga Jan termasuk kelaurga yang sangat miskin di Ukraina. Sebagai buktinya, keluarganya sampai harus mengantri mandi di kamar mandi umum. (Ini mimin banget nih, kalau sedang bepergian ke luar kota juga sering ngantri mandi di pom bensin. Hihihi). Eits, tapi ini beda kasus ya. Jan harus mengantri mandi setiap hari, meski sedang tidak ke luar kota.

Oke, karena beban berat mendapatkan tekanan sebagai seorang Yahudi, maka keluarga mereka memutuskan untuk pindah ke Amerika. Maka, pada tahun 1990 mereka benar-benar pergi ke Amerika tanpa ayahnya. Kala itu usia Jan 16 tahun. Ia tinggal di Mountain View, Amerika Serikat bersama ibu dan neneknya. Hidup di Amerika pun, mereka tetap dalam keadaan miskin. Ia bekerja menjadi tukang sapu di sebuah toko kelontong, sedangkan ibunya bekerja sebagai pengasuh anak. Namun, kenyataanya gaji mereka belum cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sehingga mereka masih harus menerima jatah makanan gratis dari pemerintah untuk tunawisma ataupun gelandangan. Ini sangat menyedihkan. Kondisi ini diperparah karena ayah Jan harus meninggal di Ukraina pada tahun 1997, sebelum ia sempat pindah dan menetap di Amerika menyusul keluarganya.

Kehidupannya di Amerika tidak semulus yang diharapkan. Namun ia tetap bertekad untuk bisa sekolah. Ia akhirnya dapat bersekolah, ia dikenal sebagai anak yang gemar berkelahi. Meskipun sebenarnya ia termasuk anak yang cerdas, terutama ketertarikannya pada pemrograman komputer yang ia pelajari secara otodidak. Ketertarikannya ini menariknya untuk ikut bergabung bersama komunitas hacker di sekolah. Ia pun dinyatakan lulus dan segera melanjutkan studinya di Universitas San Jose. Selama berkuliah, ia juga bekerja sebagai penguji sistem keamanan komputer pada sebuah perusahaan bernama Ernst & Young.

Pada tahun yang sama ketika ayahnya meninggal dunia, ia bertemu dengan seorang pegawai Yahoo bernama Brian Acton. Pria inilah yang nantinya bakal menjadi partner Jan dalam mengembangkan kesuksesannya. Atas saran Brian jugalah Jan berhasil melamar pekerjaan di perusahaan Yahoo. Ia bekerja sebagai programmer dan juga menangani proyek periklanan di sana. Sayangnya, pada tahun 2000 ibunya meninggal dunia akibat penyakit kanker yang dideritanya. Kondisi ini memaksa Jan harus tinggal dengan neneknya. Dengan padatnya pekerjaan, maka Jan memutuskan untuk tidak melanjutkan studinya hingga selesai.

Pada tahun 2007, ia dan Brian Acton memutuskan untuk sama-sama keluar dari Yahoo dan memutuskan untuk melamar bekerja di Facebook. Sayangnya, keduanya ditolak. Meski demikian, Jan tetap bertekad untuk mendapatkan sebuah pekerjaan yang layak. Pada tahun 2009, iPhone sedang menjadi gadget trend dan digemari hampir seluruh dunia. Jan membelinya. Salah satu hal yang menarik dari iPhone adalah adanya kumpulan kontak serta app store. Sadar akan kecintaannya pada pemrograman, membuat Jan ingin menciptakan sebuah aplikasi berbasis komunikasi.

Maka ia menyampaikan ide tersebut kepada Alex Fishman, salah satu temannya. Alex Fishman menyambut ide tersebut dan segera membawanya kepada seorang developer iPhone. Di sinilah tercipta sebuah aplikasi yang sekarang ini kamu gunakan bernama WhatsApp. Upss…tapi kemunculan aplikasi ciptaannya ini tidak langsung diminati banyak orang. Bahkan di awal kemunculannya, aplikasi ini hanya berhasil didownload 250 orang saja. Itupun terbatas hanya kalangan teman serta kolega Jan Koum. Jan hampir menyerah.

Berkat dukungan Brian Acton, ia terus melakukan inovasi terhadap aplikasinya tersebut. Ia buat aplikasi ini selangkap mungkin seperti ada layanan untuk menelepon, dapat mengirim pesan baik gambar maupun tulisan. Hasilnya….Taraaaaa!!! BOOMMM! Aplikasi ini berhasil didownload 250 ribu pengguna dan kian bertambah dari waktu ke waktu. Hal ini memunculkan banyak kucuran dana mengalir hingga membuat Google dan Facebook berlomba untuk mengakuisisinya. Namun akhirnya, Jan melepas aplikasi buatannya kepada Facebook dengan nilai 80 Triliyun rupiah.

Wow. Panjang bener ya kisah hidup si Jan Koum ini? Tapi, kisah ini berhasil mengajarkan pada kita betapa keinginan kuat untuk sukses bisa berhasil ketika kita melakukan –meski hanya satu hal- namun melakukan yang terbaik untuknya. Itu saja.

*****

Kembali ke daftar Cerita Motivasi.

Lakukan Yang Terbaik – Jan Koum (Pendiri Whatsapp)