kesombongan-hanya-akan-membutakanmu

Nin adalah seekor Kancil betina. Lui adalah seekor siput jantan. Suatu ketika mereka berdua bertemu di sebuah lapangan di hutan tropis.

Mari berkenalan dulu dengan keduanya. Nin bertubuh tinggi, tegap dan selalu sigap. Meskipun betina, Nin memiliki kemampuan lari yang sungguh luar biasa cepatnya. Ia dikenal akan kecerdikannya dalam menghindari predator ataupun musuh-musuh yang siap menerkamnya. Nin hidup dengan orangtuanya serta seekor adik laki-laki. (Seekor ya…kan hewan). Meskipun ia betina, ia lebih suka berkelahi dibandingkan adiknya. Ia juga terkenal sangat lincah ketika memainkan permainan apa saja di hutan. Dengan kelebihannya itu, Nin sangat disenangi oleh hewan-hewan yang lain. Burung hantu memujinya. Tupai-tupai menyukainya. Landak serta kera memujanya. Semua hewan kagum akan ketangkasan, kecerdikan serta tingkahnya itu. Namun, semakin menuai pujian Nin semakin sombong. Ia merasa bahwa dirinyalah hewan yang paling modis di hutan itu. Dia juga beranggapan bahwa dirinyalah hewan yang memiliki otak paling cemerlang di hutan itu. Terbukti bahwa ia belum pernah terkalahkan ketika berlari dengan hewan manapun. Hal itu juga dibuktikannya bahwa ia selalu bisa lolos dari kejaran para pemangsanya.

Sementara, di tepian hutan Lui tinggal. Di sana terdapat sebuah lapangan yang di tengahnya ada sebuah kolam dengan air berlimpah dan tak pernah surut. Kolam itu cukup besar. Berwarna sedikit kehijauan dan tak pernah kering sekalipun musim kemarau tiba. Kolam itu adalah tempat berkumpulnya hewan-hewan yang hidupnya menggantungkan diri kepada air. Lui tinggal di tepi kolam itu. Terkadang ia sering bermain sendirian, terkadang ia sering mengadakan lomba lari dengan siput-siput lain, terkadang ia juga bermain adu kecepatan dengan para katak. Meskipun tidak selalu menang, namun permainan itu selalu membuatnya tertawa bahagia dan menikmati hari-hari bermainnya di hutan.

Permainan yang begitu seru tersebut terdengar sampai di telinga Nin. Sebagai seekor hewan yang terkenal karena kepiawaiannya mengalahkan musuh-musuhnya serta ketangkasannya menghindar dari para predator, maka Nin ingin sekali bergabung dengan permainan di lapangan yang dimaksud itu.

Dengan sombongnya Nin menantang Lui untuk adu kecepatan berlari.

“Oke, begini. Jika kau menang, aku akan menuruti apa saja yang kau katakana dan kau inginkan.” Kata Nin dengan nada sombong kepada Lui. “Jika kau yang kalah, maka aku akan membawamu dan keluargamu menjadi santapan hewan-hewan di daerahku.”

Di sana, Lui tidak sendirian. Ada beberapa ekor katak, ular dan buaya yang juga turut menyaksikan percakapan mereka.

“Bagaimana, kau setuju tidak?” Lanjutnya.

Lui hanya diam dan tertunduk. Baginya, ini hanyalah permainan. Selama ini ia sangat menikmati permainan dengan teman-temannya. Tak pernah memasang taruhan, tak ada yang menang, tak ada yang kalah. Semua murni untuk bersenang-senang dan berkumpul dengan teman-temannya. Namun, kehadiran Nin adalah sebuah tantangan besar baginya. Jika ia menolaknya, maka tentu saja nama baik penduduk kolam dan sekitarnya akan menjadi taruhannya. Jika ia menerima, tentu ini adalah sebuah permainan yang tidak seimbang. Mengingat tubuh Nin yang jauh lebih tinggi dan lebih gesit larinya dibanding dengan tubuh Lui yang kecil dan berlarinya yang jauh lebih lambat. Ia memutar otak.

“Oke. Kuterima tantanganmu.” Jawab Lui.

Semua hewan yang menyaksikan menjadi ternganga mendengar jawaban yang mengejutkan itu. Seolah para hewan yang melihat protes dan hendak melarang Lui untuk tidak menerima taruhan itu.

“Tapi dengan satu syarat. Aku hanya mau berlomba lari mengitari kolam ini. Kolam ini cukup besar. Siapa yang tercepat mengitari kolam ini sebanyak lima kali, maka dialah pemenangnya.” Seru Lui bersemangat.

Kesepakatan terjadi. Maka mulailah Lui menemui teman-teman siputnya yang lain. Ia memberi perintah kepada temannya untuk mengelabuhi Nin si kancil dengan bersembunyi di titik-titik kolam yang telah ditentukan.

Perlombaan pun dimulai. Nin berlari sekencang yang ia bisa. Ia mengitari kolam itu terus dan terus. Namun, alangkah terkejutnya ia ketika ia melihat siput kecil itu ada di depannya terus. Nin tidak mengetahui bahwa dalam hitungan tertentu, siput-siput yang bersiaga di titik yang telah ditentukan mendongakkan kepalanya, sehingga akan terlihat oleh Nin bahwa siput berlari lebih cepat darinya. Begitu Nin sampai pada sebuah titik, maka yang mendongakkan kepalanya adalah siput yang ada titik depannya. Begitu seterusnya hingga lima putaran telah terselesaikan dan siputlah yang dinyatakan menang. Akhirnya, dengan terengah-engah dan menyerah, Nin melakukan semua yang dikehendaki Lui.

Pesan Moral: Kesombongan hanya akan membutakanmu. Jika kau menjadi buta, maka kau tidak akan pernah tahu bahwa ternyata kemenangan adalah milik mereka yang lebih kreatif. Kesombongan hanya akan mengalahkan dirimu sendiri, cepat atau lambat.

Cerpen motivasi karya Fajar (fajar@katabijak.id)

*****

Kembali ke halaman daftar Cerpen Motivasi.

Kesombongan Hanya Akan Membutakanmu