kelembutan-hatimenghancurkan-kekerasan-hati

Di sebuah gua, ada sebuah batu besar dan sangat keras yang menutupi mulut gua tersebut. Akibatnya, tidak ada yang tahu bahwa sebenarnya ada sebuah gua di belakang batu besar itu. Semakin lama, batu itu ditumbuhi banyak lumut dan juga tumbuhan lain, sehingga semakin lama mulut gua itu semakin tersamarkan dan tak terlihat.

Sebenarnya, gua tersebut sangat bersedih karena adanya batu yang menghalangi sinar matahari yang masuk. Terlebih karena hewan-hewan di dalam gua menjadi tidak bisa keluar dan harus hidup dalam gelap. Andai gua bisa berbicara, mungkin ia akan berkata kepada batu tersebut untuk minggir dan jangan menutupi jalan bagi makhluk lain yang mungkin ingin menikmati keindahan di dalam gua. Mungkin, jika memang benar ada hewan-hewan yang masih terjebak di dalamnya, mereka juga akan berkata yang sama.

Ceritanya dimulai ketika sebuah letusan gunung berapi yang jaraknya tidak terlalu jauh dari mulut gua itu. Letusan gunung berapilah yang telah melontarkan batu sebesar itu dan menutupi gua. Sejak saat itu, ruang ataupun celah yang ada di kedalaman gua menjadi sangat gelap. Batu itu dengan gagah dan arogannya tak mau menyingkir. Berbulan-bulan, bertahun-tahun gua itu tertutup. Semua hewan dan mungkin juga makhluk hidup lain yang berada di dalamnya terjebak, tidak bisa keluar mencari makan, lalu lama kelamaan mati.

Tentu saja gua tidak ingin semua penghuninya mati kelaparan dan membuat ruangannya tidak berfungsi lagi sebagai gua yang dapat melindungi makhluk hidup lain.

“Hei batu, kau ini tidak kasihan melihat para penghuniku nanti mati kelaparan?” Tanya sang gua.

“Hahaha. Apa peduliku? Toh, mereka tidak tahu aku juga ditakdirkan untuk terlempar dan menutupi mulut guamu ini.” Jawab si batu.

“Minggir kau. Menghalangi udara, sinar dan apa saja yang ingin masuk ke dalamku.”

“Silakan saja jika kau mampu. Tubuhku ini sangat kokoh. Keras, padat dan sangat berat untuk disingkirkan meskipun dengan tenaga yang sangat besar sekalipun. Kujamin kau tidak akan pernah sanggup memindahkanku.”

“Jika kau tak mau minggir, maka kau akan hancur.”

“Apa? Hancur katamu? Kau ini tak punya alat ataupun tenaga untuk memindahkanku. Kubilang bahwa dengan tenaga sebesar apapun, tak akan sanggup walau hanya untuk menyingkirkanku sekalipun.” Dengan arogannya si batu berkata begitu.

“Aku hanya tak ingin melihatmu hancur jika kau tak minggir dari situ.” Geram si gua.

“Tidak apa. Silakan saja.” Tantang si batu.

Begitulah. Berminggu-minggu, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun si batu tetap di tempat itu. Ia tak mau menyingkir, bahkan dengan keangkuhannya ia meyakinkan diri bahwa ia akan tetap baik-baik saja di situ dan tak aka nada yang bisa menghancurkannya.

Namun, ternyata ia salah. Perlahan namun pasti, tetesan air yang di dalam mulut gua itu terbentuklah stalaktit. Stalaktit itu semakin lama semakin membesar dan tetesan air semakin lama bisa menjangkau bagian atas batu itu. Perlahan tetesan demi tetesan air membuat bagian atas batu itu berlubang. Beratus-ratus tahun kemudian, lubang di batu itu semakin membesar dan semakin menghancurkan batu itu tanpa bekas. Hingga yang tersisa adalah bagian dasar batu itu.

Suatu hari, seorang pengembara tak sengaja melihat adanya sebuah lubang menganga yang sangat besar. Ia memastikan bahwa itu adalah sebuah gua yang belum pernah diketahui siapapun. Dengan cepat berita adanya sebuah gua di tempat itu menyebar. Semakin banyak orang yang datang dan membersihkan gua itu. Gua itu kini menjadi lebih bersih, terawat dan banyak dikunjungi orang. Hingga akhirnya pemerintah desa setempat menjadikan gua itu sebagai objek wisata sekaligus tempat berlindung bagi hewan-hewan yang membutuhkannya. Karena banyaknya orang yang mengeluhkan adanya sebuah batu yang menonjol dan menghalangi pintu masuk, maka pemerintah setempat memerintahkan agar batu itu disingkirkan.

Kini, batu yang besar, padat dan kokoh itu sebagian hancur dan sebagian disingkirkan orang-orang karena menghalangi jalan. Meski diam, gua telah membuktikan ketakutannya.

Pesan moral: Kelebihan yang dimiliki seseorang bisa menimbulkan keangkuhan. Keangkuhan yang dipelihara terus menerus akan menghasilkan kekerasan hati. Namun, semua itu akan mudah dihancurkan dengan sikap dan kelembutan hati.

Cerpen motivasi karya Fajar (fajar@katabijak.id)

*****

Kembali ke daftar Cerpen Motivasi.

Kelembutan Menghancurkan Kekerasan Hati