kelebihan-dari-kekurangan

Ia seorang gadis remaja yang cerdas, ramah dan selalu mendapat juara menyanyi di setiap perlombaan. Ia tumbuh di tengah keluarga yang hangat dan selalu mendukungnya. Sejak kecil, ia bercita-cita menjadi seorang pianis. Mahir bermain piano sekaligus menyanyikan lagu-lagu ciptaannya sendiri. Margaret, Ibunya, selalu mendukung dan mendampinginya ke manapun ia berada. Bahkan saat tampil sebagai bintang tamu di acara tingkat sekolah, ibunya selalu ada di sampingnya.

Namun, ketika umurnya menginjak 13 tahun, ia mulai menarik diri dari lingkungannya. Ia melihat bahwa teman-teman sebanyanya telah memiliki seorang penggemar, lalu mereka akan menyebutnya sebagai pacar. Tapi tidak dengan dirinya.

Maya. Nama gadis itu Maya. Gadis dengan mata cemerlang serta rambut berkilauan itu kini lebih senang berada di kamar sendirian. Terkadang ia sedih memandangi dirinya sendiri di cermin. Kelamaan, cermin itu retak karena sering ia pukul. Dari kamarnya, terkadang ia melongok ke luar jendela untuk melihat orang-orang yang sering lewat di jalanan depan rumahnya. Kerap mereka berjalan berpasangan, bergandengan tangan bahkan kadang tertawa-tawa bersama. Maya ingin menjadi seperti mereka. Jangankan menjadi seperti mereka, menjadi pianis saja rasanya sangat berat.

Maya terlahir sebagai seorang bayi yang kurang sempurna. Jari-jari tangannya tidak tumbuh dengan sempurna. Ia hanya memiliki tiga jari di setiap bagian tangannya. Sedang kaki kanannya tidak tumbuh dengan sempurna. Hal ini menyebabkan ia pincang ketika berjalan. Meskipun demikian, ibunya terus mendorongnya menjadi seorang penyanyi, pianis atau apapun yang diinginkannya. Ia mendapat dukungan itu dari semua keluarganya.

Tapi hari ini, tepat usianya menginjak 16 tahun. Hari ulang tahun yang seharusnya bisa memamerkan pasangannya. Namun, hari lahirnya ke 16 tak akan pernah dihadiri oleh pacarnya karena ia lebih sering di kamarnya sendiri daripada bergaul dengan teman-temannya. Bahkan, dengan semakin menutup diri, bakat bermusik yang dimilikinya juga kian padam.

Tepat di hari ulang tahunnya itulah ia mendapat sebuah buku sebagai kado dari Nana, teman sekelasnya dulu. Buku itu berkisah tentang dua buah tempayan yang bertugas menampung air dengan jarak tempuh yang cukup jauh. Namun salah satu tempayan itu retak. Tempayan yang lain tetap utuh. Tempayan yang retak mulai mengeluh bahwa dirinya tidak sanggup menampung air secara utuh untuk majikannya, sedangkan ia melihat tempayan yang tidak retak sanggup menampung air hingga penuh sampai ke tujuan. Hal ini membuat tempayan retak menarik diri dan ia kecewa akan kekurangannya. Namun, di depan kedua tempayan tersebut, majikannya mengucapkan terimakasih kepada keduanya. Kepada tempayan yang utuh, ia mengucapkan terimakasih karena telah menampung air dengan utuh tanpa kurang suatu apapun. Ia juga berterimakasih kepada tempayan yang retak, karena berkat retaknya, air yang jatuh menetes telah menumbuhkan banyak bunga sepanjang perjalanannya. Sehingga, sang majikan merasa senang dan tidak pernah bosan ketika dirinya pergi mengambil air dalam jarak yang jauh. Seketika, tempayan retak tertunduk. Ternyata, retak bukanlah suatu keadaan yang tidak berguna. Justru retaknya itulah yang bisa menyuburkan banyak bunga.

Maya terdiam. Ia menutup halaman terakhir buku yang dibacanya tersebut. Dalam hati, ia merasa bahwa ia mendapat sebuah ‘teguran’ bahwa kekurangan dirinya bukanlah akhir dari hidupnya. Mungkin saja ia belum memiliki pacar saat ini, karena ia hanya belum bertemu dengan orang yang tepat. “Bagaimana bisa kudapatkan pasangan yang tepat jika aku sendiri masih terus mengurung diri di kamar dan tak melakukan apapun?” Gumamnya.

Buku tersebut telah menyadarkan Maya bahwa betapa beruntungnya ia masih memiliki keluarga yang senantiasa mendukungnya, teman-teman yang masih perhatian padanya serta orang-orang yang senantiasa memuji karyanya. Sejak saat itu, Maya bertekad bahwa ia akan melakukan yang terbaik terhadap apa yang disukainya. Ia mulai giat berlatih menyanyi, bermain piano dan menciptakan lagu. Ia tetap berkarya meskipun dirinya tak sempurna. Semua orang diciptakan dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing. Maya bertekad dari kekurangannya, ia menciptakan kelebihan. Ia tetap berkarya dan mendapat sambutan yang luar biasa dari para penontonnya.

Pesan Moral: Maya mengajarkan kita betapa kekurangan yang kamu miliki bukanlah suatu halangan untuk terus berkarya dan mencetak prestasi. Teruslah berkarya apapun alasannya. Semua makhluk diciptakan dengan kekurangan dan kelebihannya sendiri. Mereka ada untuk saling melengkapi. Karenanya, jika kau merasa kau memiliki kekurangan dalam dirimu, galilah terus keahlianmu yang lain. Maka kekuranganmu justru akan menyempurnakan kelebihanmu.

Cerpen motivasi karya Fajar (fajar@katabijak.id)

*****

Kembali ke halaman daftar Cerpen Motivasi.

Kelebihan Dari Kekurangan