Nama saya Ratna, 27 tahun. Saya seorang ibu rumah tangga dengan dua orang anak dan sudah bercerai. Menjadi janda di usia muda tidaklah mudah. Banyak tetangga yang mencibir karena perceraian saya. Akibatnya kedua orangtua saya juga sedikit mengucilkan saya dari anggota keluarga yang lain. Sebab, perceraian saya ini juga berdampak pada perekonomian keluarga, –terutama karena saya yang selama ini membiayai kuliah adik saya yang paling kecil — sudah tidak bisa membiayainya lagi. Maka, biaya kuliah adik saya yang paling kecil menjadi tanggungjawab orangtua saya.

Saya menikah dengan seorang pengusaha muda, sebut saja Jono. Kami pacaran tidak lama. Hanya lima bulan pacaran langsung menikah. Ternyata, pernikahan kami tidak berjalan mulus. Jono suka sekali melakukan kekerasan ketika saya melakukan sedikit kesalahan. Hingga akhirnya kami memiliki dua orang anak yang masih kecil. Kebiasaan memukul belum juga berhenti. Terakhir kali, ia memukul saya karena saya meminta uang untuk beli susu anak-anaknya. Bukannya diberi uang, saya dimaki dan kena tampar. Sejak saat itu, saya bertekad untuk bekerja sendiri. Itu pun tidak diijinkan.

Keadaan semakin buruk ketika ternyata usaha Jono bangkrut. Kami mengontrak sebuah rumah kecil di lingkungan kumuh. Sehari makan sebungkus mie instan yang harus dibagi tiga yaitu saya dan kedua anak saya. Sementara Jono jarang pulang ke rumah. Ia pulang hanya dengan membawa sebungkus mie instan, bila beruntung dengan sebungkus nasi. Berminggu-minggu hidup seperti itu membuat kedua anak saya mulai sakit-sakitan. Listrik mulai tak terbayar. Ponsel sudah lama saya jual untuk biaya makan. Lama kelamaan, saya juga ikut sakit-sakitan dan sering muntah.

Jika ada seseorang yang saya mintai tolong, pastilah orang itu benar-benar seseorang yang memang sengaja datang ke rumah saya dan memang dikirim Tuhan untuk saya. Kenyataannya, keberuntungan itu tak datang pada saya. Tak hanya listrik yang tak terbayar, untuk pergi membayar uang bus saja saya tak punya. Mungkin, hidup saya lebih menyedihkan dari cerita sinetron sekalipun. Maka setiap hari saya hanya bisa menangis, memohon pekerjaan pada tetangga untuk menjadi tukang cuci atau tukang setrika baju dan tak hentinya saya berdoa.

Jono tak pernah lagi pulang ke rumah. Sementara saya bekerja menjadi tukang cuci. Kedua anak saya yang masih kecil sengaja saya ajak dan tidak bersekolah. Uang hasil mencuci baju saya kumpulkan. Saya belikan buah dan sebuah blender. Saya mulai berjualan es jus di pinggir jalan. Keuntungan memang tak seberapa. Pelan tapi pasti, keuntungan demi keuntungan saya kumpulkan akhirnya saya bisa mengontrak sebuah kios kecil untuk berjualan es jus saya.

Empat tahun berlalu dari masa paling menyiksa itu. Dengan ketekunan dan kepercayaan bahwa keberuntungan akan datang pada saya, maka saya bisa melampauinya. Hari ini, saya memiliki delapan gerai es jus dengan kios yang saya beli sendiri. Saya tidak mengontrak kios dan rumah lagi.

Maka, dengan pengalaman pahit saya, saya yakin bahwa siapapun bisa bangkit dari keterpurukan seberat apapun itu. Tetaplah berjalan, janganlah menyerah pada keadaan dan percayalah bahwa tak ada seorangpun yang berhak menghancurkan hidup anda. Sekalipun anda single parent.

Kiriman dari : ratnakuini1708 @yahoo.co.id

*****

Kembali ke halaman Cerita Motivasi.

Keberuntungan Akan Selalu Ada