jangan-menilai-dari-luarnya

Setiap pagi, ia sibuk mengusir seorang gila yang selalu tidur di depan toko kelontongnya. Pak John, pria setengah baya yang hidup sebatang kara. Istrinya telah meninggal beberapa tahun lalu, sedang anak sematawayangnya telah menikah dan tinggal di luar kota.

Maka, membuka toko kelontong adalah pekerjaan yang membantu Pak John untuk menghilangkan rasa sepinya. Ia menjual apa saja. Minuman kaleng, roti-roti siap santap, mi instan, gula-gula, coklat serta beberapa peralatan dapur yang kecil-kecil. Pak John orang yang ramah. Ia selalu menyambut pelanggannya dengan senyum. Ia juga ramah kepada para tetangganya. Mungkin, para tetangga itu sepakat mengatakan Pak John adalah orang paling ramah di kompleks pertokoan itu.

Namun, ada beberapa orang yang tetap tak setuju dan tak percaya bahwa Pak John adalah orang yang ramah. Sebab, beberapa dari mereka melihat perlakuan Pak John kepada seorang gila yang kerap tidur di depan tokonya.

Tiap pagi, ketika membuka gerainya, Pak John melihat ada seorang gila yang dengan santainya tidur di emperan toko miliknya. Tak segan ia menendang untuk mengusir si orang gila tersebut. Esok paginya, ia temukan lagi orang gila yang sama tidur di tempat yang sama. Segera ia mengambil air dan mengguyurnya ke wajah si orang gila tersebut. Selalu seperti itu. Jika tidak menendang, mengguyur dengan air, ia akan memukulinya sambil memaki. Tentu saja si orang gila tersebut ketakutan dan lari tunggang langgang.

Seorang perempuan yang menjadi tetangga terdekatnya sering melihat kejadian itu. Namun, ia tak dapat berbuat banyak atas perlakuan Pak John terhadap orang gila. Ia berpikir karena itu juga bukan hak nya mengatur ataupun menegur Pak John atas tindakan kasarnya.

Berbulan-bulan orang gila itu tetap melakukan hal yang sama. Tidur di tempat yang sama pada malam harinya, kemudian lari tunggang langgang keesokan harinya.

Pada suatu hari, Pak John membuka gerainya. Ia tak menemukan si orang gila itu di depan toko kelontongnya. Ia merasa senang karena ternyata si orang gila tersebut telah jera dan tidak akan mengganggu pemandangan dengan selalu tidur di depan tokonya. Hari kedua, Pak John membuka tokonya, ia tidak menemukan si orang gila itu. Lima hari berlalu, ia tak melihat keberadaan si orang gila itu. Ia mulai merasa ‘kehilangan.’

Karena sedang tidak banyak pelanggan, ia iseng mengecek kamera pengintainya – cctv-. Diputarnya rekaman kamera itu beberapa hari dan minggu-minggu sebelumnya. Betapa terkejutnya ia apa yang tengah dilihatnya.

Rekaman itu menunjukkan bahwa orang gila tersebutlah yang selalu ‘menjaga’ tokonya. Tampak beberapa lelaki ingin kencing sembarangan di gerainya. Namun, orang gila itu segera mengamuk dan mengusir lelaki tersebut. Lain hari, dilihatnya bahwa ada beberapa orang yang ingin mencongkel tokonya. Namun, lagi-lagi orang gila itu dengan garangnya melawan mereka-mereka yang berniat jahat merampok tokonya. Lain waktu, ia melihat bahwa orang gila itulah yang memungut dan membersihkan setiap sampah yang ada di emperan tokonya. Pantas saja depan tokoku selalu bersih meski aku tak pernah menyapunya, batinnya. Ia sampai pada malam sebelum orang gila itu ‘menghilang.’ Malam sebelumnya, dilihatnya tiga orang pria hendak mencongkel pintu tokonya. Seperti biasa orang gila itu melawan orang-orang jahat tersebut. Sayangnya, salah satu dari pria jahat itu menusuknya menggunakan pisau ke perut si orang gila.

Terkejut pada apa yang baru dilihatnya, Pak John menangis. Ia lalu memandangi sampah-sampah yang berserakan di depan tokonya. Ia baru menyadari bahwa orang yang selalu dipukulinya tiap hari adalah orang yang telah melindunginya dari kejahatan. Ia baru menyadari bahwa ternyata orang gila tersebut seorang malaikat yang lebih waras dari dirinya.

“Ini salahku. Menilai orang hanya dari luarnya saja. Aku gila, aku cukup gila.” Isaknya pada diri sendiri.

Cerpen motivasi karya Atria (atria@katabijak.id)

*****

Kembali ke halaman Cerpen Motivasi.

Jangan Menilai Dari Luarnya