ditempa-menjadi-lebih-baik

Seseorang sedang duduk di ujung tangga di lantai paling atas gedung itu. Ia memakai gaun berwarna merah marun nan anggun. Kepalanya menunduk dan sesekali bahunya terlihat naik turun, tanda ia sedang tersedu. Ah, wanita selalu seperti itu. Apa saja yang menjadi masalah selalu diakhirinya dengan menangis. Apa saja yang menjadi kesenangannya juga akan diakhiri dengan tangisan. Sepertinya tangisan dan wanita adalah dua mata uang yang tak dapat dipisahkan. Hahaha.

“Begitu kah?” Brian mengangkat gelas dan menganggukkan kepala atas pertanyaan Liam, temannya.

“Kau yakin begitu?” Liam masih bertahan pada pertanyaan yang sama.

“Yap.” Jawab Brian sekenanya. “Kau lihat saja bahwa tak akan mungkin ia sampai sesenggukan seperti itu jika tidak ada pemicunya.” Lanjutnya.

Brian memang tumbuh menjadi pria yang selalu percaya diri. Ia sedikit skeptis terhadap apapun yang menyangkut wanita. Sesungguhnya, ia tertarik untuk dapat menjadi bagian dari setiap permasalahan wanita. Namun, semakin ia memahami wanita, maka akan semakin tertawalah ia.

“Semua masalah wanita itu sama saja. Sebenarnya sangat ringan. Terkadang ia hanya membesar-besarkan saja sehingga segalanya terlihat rumit dan lebih dramatis.” Brian menambahkan.

Lalu kedua pria itu tertawa bersama sambil meminum anggur yang tersisa di dalam gelasnya.

Ia masih duduk dengan gaun merahnya. Masih menantikan waktu saat ia bisa mengendalikan dirinya atas kejadian baru saja menimpa dirinya. Ia, wanita itu, adalah seorang wanita yang tangguh. Memilih untuk tidak menikah dan tidak memiliki anak. Keputusan ini adalah sebuah keputusan berat yang telah dipertimbangkannya bertahun-tahun sebelum semuanya terjadi. Hari ini, beberapa menit yang lalu dokter pribadinya baru saja menelepon. Mengabarkan sesuatu yang patut diketahuinya dan ini merupakan jawaban atas kekhawatirannya selama ini.

“Hasil pemeriksaannya positif, Bec.” Kata suara di seberang sana.

“Lalu, aku harus bagaimana?” Balasnya sambil menahan getar di bibirnya.

“Ummm…kau harus menjalani pengangkatan rahim dan itu akan dijadwalkan secepatnya.” Balas suara di seberang sana yang dikenalnya. Suara dokter Refta.

Seketika, tubuhnya dijalari suatu getaran ketakutan dan keputusasaan. Di sana, jauh di dalam hatinya ia berkata bahwa keputusan itu adalah tepat. Ia tidak akan pernah bisa memiliki anak. Maka, kesendirian yang dipilihnya adalah suatu keputusan besar yang sangat ia syukuri, sekaligus yang membuatnya sangat berduka.

Ia mengambil nafas dalam lalu mengusap air mata yang sedari tadi menunggu giliran jatuh ke ujung pipinya.

“Maaf, ada yang bisa kubantu?” Liam mengulurkan tangan kepada wanita itu. “Aku Liam. Kulihat kau sendirian di sini dan …oh…maaf…apakah aku mengganggu? Kau tampak sedang menangis.” Lanjutnya.

Wanita itu segera berdiri dan membenahi posisi duduknya. Seketika ia menyambut uluran tangan lelaki yang mengaku bernama Liam itu.

“Aku…aku tak apa-apa. Aku baik-baik saja. Mungkin aku hanya perlu waktu untuk melupakan ini saja.” Jawab wanita itu terbata.

Dipersilakannya Liam untuk duduk menemaninya di meja yang sama. Mereka adalah tamu pada sebuah acara yang sama. Acara pembukaan sebuah galeri rekan mereka, Brian.

Beberapa saat kemudian, mereka terlibat dalam perbincangan. Wanita itu sedikit melupakan apa yang baru saja menimpanya.

“Aku adalah seorang psikolog. Aku berkantor di Strauss Avenue. Beberapa blok dari sini.” Liam menjelaskan.

Pertemuan itu berlanjut menjadi sebuah kencan. Wanita itu telah menjalani operasi pengangkatan rahim. Tak lama berselang, Liam melamarnya.

“Percayalah, bahwa sesuatu yang buruk belum tentu berakhir dengan keburukan.” Wanita itu berkata di sela acara pertunangannya.

Wanita itu Sandra, Kakakku. Betapa kejadian itu mengajarkanku bahwa Tuhan tidak akan pernah memberikan beban yang terlalu berat untuk umatnya. Keburukan hanya proses bahwa kau ditempa untuk menjadi lebih baik.

“Aku percaya itu.” Kataku pada Brian, teman sekaligus kekasihku.

“Wanita selalu seperti itu.” Elaknya.

“Ah, kau tak tahu makna sesungguhnya. Mungkin kau perlu ditempa terlebih dahulu.”

Kami tertawa bersama. Mensyukuri apa yang telah terjadi pada kakakku dan pelajaran yang kupetik darinya.

Cerita pendek pembangkit motivasi karya Atria (atria@katabijak.id)

*****

Kembali ke halaman daftar Cerpen Motivasi.

Ditempa Menjadi Lebih Baik