arti-sebuah-kejujuran

Pak Karim adalah seorang kepala salah satu perusahaan milik pemerintah. Di kampungnya, Pak Karim terkenal kaya dan sangat murah hati. Jika kampung membutuhkan dana untuk pembangunan fasilitas umum, maka dengan segera Pak Karim akan menyumbang dan mengajak warga bergotong-royong membangun fasilitas umum tersebut. Selain murah hati, Pak Karim terkenal dengan senyumnya yang ramah. Ternyata, tak hanya Pak Karim yang memiliki sifat seperti itu. Istri dan anak-anaknya juga memiliki sifat yang ramah seperti ayahnya. Dengan kondisi demikian, Pak Karim disegani oleh warga di kampungnya.

Pak Tori adalah salah satu tetangga Pak Karim. Ia adalah seorang buruh tani yang sesekali ditugaskan majikannya untuk mengolah sawah. Jika sedang tak mengolah sawah, Pak Tori sering membantu tetangga yang ingin membangun rumah. Terkadang ia menjadi tukang aduk semen, terkadang ia menjadi tukang memasang bata, bahkan terkadang ia juga menjadi tukang kayu. Tugas-tugas inilah yang menjadikannya mahir menjadi tukang bangunan di kampungnya. Maka tak heran jika Pak Tori menjadi salah seorang kepercayaan warga ketika mereka mau membangun rumah atau ingin membenahi rumah mereka yang rusak. Ia terkenal sebagai seorang pekerja yang ulet.

Meskipun Pak Tori adalah seorang pekerja yang ulet, namun ia tetap tinggal di sebuah gubuk reot yang dahulu bekas kandang ternak. Uang hasil kerja kerasnya habis untuk membiayai istrinya yang sakit lumpuh serta biaya sekolah anak sematawayangnya. Beberapa bulan yang lalu istri Pak Tori meninggal dunia. Pak Tori dan anaknya sangat bersedih karena kehilangan istri serta ibu yang amat mereka cintai. Sepeninggal istrinya, Pak Tori menjadi orang yang murung. Namun, kesedihan tersebut segera berlalu seiring dirinya dekat dengan seorang janda bernama Mbok Nah. Seorang buruh pemetik padi di kampung seberang. Bahkan rencananya, Pak Tori ingin menikahi Mbok Nah.

Suatu hari, Pak Karim baru saja membeli sebuah sepetak tanah pekarangan. Tanah itu tak jauh dari rumahnya yang kini ia tinggali bersama keluarganya. Tanah itu adalah bekas sebuah kebun pisang milik salah satu warga desa yang memang sedang membutuhkan uang. Ketika mendapat persetujuan dari sang istri, Pak Karim pun segera membeli tanah pekarangan itu dengan lunas. Rencananya, akan didirikan sebuah rumah kecil di sana. Pak Karim memang memiliki enam orang anak. Empat diantaranya sudah berkeluarga dan tinggal di luar kota. Mungkin, ketika semua anak dan cucunya pulang kampung saat hari besar tiba, rumah Pak Karim sudah tidak muat lagi. Maka dibangunlah rumah yang akan menampung semua keluarganya ketika saat itu tiba.

Pak Karim memanggil Pak Tori untuk mengerjakan pembangunan rumahnya itu. Pak Karim ingin segala sesuatu dikerjakan Pak Tori. Mulai dari bentuk rumahnya dan segala perlengkapannya. “Pokoknya dibuat yang terbaik menurut Pak Tori.” Begitu pesan Pak Karim.

Esoknya, Pak Tori mulai mengerjakan pembangunan rumah pesanan Pak Karim. Ia bekerja berminggu-minggu tanpa pengawasan Pak Karim. Tak disangka, muncullah ide jahatnya untuk bisa mendapat keuntungan lebih dari pembangunan rumah tetangganya itu. Dalam hatinya, keuntungan lebih ini akan ia pergunakan untuk biaya menikah dengan Mbok Nah.

Maka, dibelilah semua bahan dengan kualitas rendah dan ia kerjakan seadanya. Agar hasilnya kelihatan bagus, maka ia hanya memoles bagian-bagian rumah yang tampak mata agar terlihat indah.

Benar saja, ia dapat menyisihkan sedikit keuntungan hasil dari berbuat curangnya itu.

Ketika pembangunan rumah tersebut selesai, Pak Karim bertemu dengan Pak Tori dan mengucapkan terimakasih. Lalu Pak Karim menyampaikan bahwa rumah yang baru saja selesai pembangunannya adalah hadiah untuk Pak Tori. Dengan ternganga, bersorak kegirangan sekaligus menangis Pak Tori menerimanya. Pak Tori ternganga karena tidak pernah menyangka bahwa selama ini ia sedang mengerjakan rumahnya sendiri. Ia bersorak kegirangan karena itu berarti ia akan memiliki rumah yang layak ditinggali untuk pernikahannya kelak. Namun di sisi lain, ia menangis karena ia telah berbuat curang dan tidak jujur dengan pembangunan rumahnya. Rumah itu rapuh, belum lama ditinggali sudah menandakan gejala reot. Retak sana-sini, dinding bagian bawah mulai berjamur, bahkan tak jarang ketika hujan tiba, rumah itu bocor.

Pesan moral: Pak Tori mengajarkan kita bahwa kejujuran adalah modal hidup berkualitas. Seberapapun usahamu, kejujuran akan menyelamatkanmu dari kerugian dan kehancuran di kemudian hari.

Cerpen motivasi karya Fajar (fajar@katabijak.id)

*****

Kembali ke halaman daftar Cerpen Motivasi.

Arti Sebuah Kejujuran